Home / Ari Widi / PENULIS BOLEH IKUT BAPER? (Bawa Perasaan)

PENULIS BOLEH IKUT BAPER? (Bawa Perasaan)

 Penulis Boleh Ikut Baper? (Bawa Perasaan)

Seperti halnya pembaca, apakah penulis baperan? Atau selalu membawa tulisannya kedalam perasaan nya yang paling dalam?
Kali ini kepingin banget saya ngomongin sedikit saja tentang hal ini.
Pada saat kita membaca buku novel romance, pasti dipertengahan kita akan dibuat galau oleh si pembuat novel tersebut. Yang mana membuat kita kadangkala terbawa arus jalan ceritanya. Cerita percintaan yang membuat kita terharu bahkan menitikkan air mata.

 

Itu tadi adalah pembacanya, wajar jika mereka terbawa oleh jalan cerita si penulis. Bagaimana jika penulisnya yang terbawa arus sendiri. Yaitu ia ikutan sedih dengan tulisan yang ia tulis sendiri.
Ini banyak terjadi loh sebenarnya, ada yang menulis puisi si penulis harus sambil menangis menulisnya bahkan membacakannya. Pada pembuat cerita fiksi, seperti penulis novel, adakah yang ikutan sedih?
Jadi, menurut saya itu wajar. Baik si penulis maupun si pembaca membawa perasaan mereka ke dalam bacaannya, atau si penulis dalam menumpahkan tulisannnya. Semua adalah wajar.

Namun sebenarnya ada juga penulis yang memang berusaha tidak mau terbawa arus membawa ke dalam perasaannya. Ia akan berusaha menjalani tugasnya untuk menulis tanpa merasakan baper.
Saya pernah menulis puisi, dan saya menangis. Kemudian membacanya juga menangis. Saya pun pernah menangis ketika membuat cerita pendek. Karena di dalam cerita tersebut saya menggunakan orang pengganti aku. Makanya saya merasa yang menjadi tokoh utamanya adalah saya sendiri. Lalu tanpa sengaja saya seolah dibawa hanyut oleh cerita saya sendiri.

Sebenarnya ketika menulis, diusahakan untuk tidak ikut hanyut kedalam ceritanya. Mencobalah untuk seprofesional mungkin. Menulis kata demi kata semaksimal mungkin. Mencoba menginspirasikan menjadi jalan cerita yang nantinya akan menarik jika di baca oleh pembaca.

Kalau saya ketika menulis cerita pasti akan meresapi dan mencoba untuk menulis sesuai dengan perasaan saat itu. Namun saat menyelesaikannya berusaha untuk membaca seolah itu adalah tulisan orang lain. Jadi apakah saya bisa cukup baik dalam menulis. Dari situlah saya bisa mengira-ngira tulisan saya tersebut. Karena saya memang masih perlu banyak latihan dan belajar.

Kalau dikatakan penulis itu ikut baper juga, sebenarnya bagi saya mereka sudah biasa menulis segala macam genre dan macam konflik dan lain sebagainya. Sudah biasa berdrama dan menuangkan segala macam isi hati. Baik isi hatinya maupun isi hati orang lain yang ditemuinya dan lalu dikemas kedalam tulisan maupun cerita pengalamannya. Semua itu sudah selayaknya dilakukan. Jadi malahan sebaliknya berusaha membuat si pembaca nya membawa keperasaan mereka masing-masing. Boleh dibawa menangis ataupun tidak.

Jadi pada kesimpulannya penulis itu tidak perlu terbawa arus kedalam tulisannya. Karena pada dasarnya penulis itu hanya berusaha untuk menghibur si pembaca agar menyukai tulisannya dan merasa terbawa pada alur daripada ceritanya saja. Makanya mencobalah menulis kebaikan dan mencoba mengajak kebaikan pula. Jangan lupa ketika menulis berikan suatu pesan moral yang bisa berguna kelak pada si pembaca. Sehingga disaat ia membutuhkan tulisan kita kembali yakinlah ia pasti akan mencarinya kembali dan membacanya kemudian menerapkannya.

Demikian pembahasan mengenai penulis yang baperan atau ikut terbawa arus juga dalam ceritanya.
Semoga bermanfaat.

Penulis

Ari Widiyastuti

About Ari Widi

Check Also

Menulis Itu Tidak Langsung Instant

Banyak yang bertanya jadi penulis itu enaknya di mana sih? Jadi penulis itu kayak gimana …