Home / Ari Widi / SAKURA

SAKURA

SAKURA

Cinta bersemi di musim Semi

Taito Tokyo

Pagi ini aku terduduk di pinggiran tempat tidurku yang empuk, karena sangat sayang dilewatkan bahwa pagi ini harus bermalas-malasan. Meski setiap harinya aku memang harus bangun sangat awal untuk pergi bekerja. Namun weekend ini amat segar dan terlihat cerah untukku dapat menikmati cerahnya dipagi ini. Baru empat hari aku berada di sini, dan memang sebulan adalah waktu yang harus aku manfaatkan semaksimal mungkin selama ditugaskan bekerja di Negeri Sakura Jepang ini. Yang juga adalah impianku sejak kecil yang terwujud. Sejak kecil aku selalu bermimpi bisa melihat aslinya bunga Sakura yang indah itu. Entah kenapa aku begitu mengagumi bunga kecil-kecil berwarna merah jambu itu. Apalagi jika aku dapat menyentuhnya langsung dan semua hanyalah mimpi belaka. Tetapi aku tidak pernah berhenti bermimpi bisa menginjakkan kakiku di Negeri Sakura Jepang. Sampai segini dewasanya aku masih saja mendambakannya. Pada akhirnya di hari yang tak disangka-sangka aku diberi kesempatan pada perusahaan tempatku bekerja di Jakarta, aku ditugaskan untuk memperkenalkan branch launcing produk perusahaan yang tepat sekali aku kedapatan di Negara ini. Senangnya bukan kepalang. Perusahaan akan mengimport jika memang produknya diminati di sini. Oleh Perusahaan kami dikirim empat (4) orang untuk siap mempresentasikan all of our product, meski masih sama bertempat di Jepang tetapi lokasinya memang berbeda. Aku kebetulan kedapatan di Kota Kyoto, Tokyo Jepang. Yang mana bunga Sakura hampir setiap hari aku lewati. Memandang indahnya, mengingat betapa inginnya aku menyentuh Sakura sejak kecil dan kini benar-benar tercapai. Sejak masih ingusan aku suka bermain menjadi wanita Jepang dengan memakai baju Kimono buatan sendiri. Begitulah, maklum saja ulah anak kecil, ada saja ide lucu dan menggemaskan. Kain-kain mama lah yang jadi korbannya untuk kupakai bermain bersama teman. Akhirnya kini, semua itu benar-benar ada di depan mataku. Dan terwujud tanpa di sangka-sangka. Sakura muncul tepat sekali pada saat aku berkunjung ke sini. Akhir Maret.
Pagi ini rencanaku hendak ke market terdekat untuk belanja makanan kecil persediaan beberapa hari ke depan. Mumpung hari libur sehari ini. Ke pasar Ameyoko yang tidak begitu jauh dari Apartemen yang di sediakan dari kantor perusahaanku bekerja. Lokasi dekat saja, cukup berjalan kaki sudah sampai, hitung-hitung olahraga kaki. Walau berasa juga pegel kaki ini. Tetapi aku menikmatinya.
Aku memilah-milah buah jeruk yang masih segar-segar. Tidak perlu boros, hanya saja perlulah asupan vitamin untuk tubuh, ya vitamin C ini. Kemudian kusempatkan berkeliling seputaran market Ameyoko, untuk sekedar membeli makanan kecil, karena bekerja di depan laptop aku memerlukan cemilan untuk menemaniku bekerja. Melihat barang penunjang untuk mengisi apartemen yang masih kelihatan kosong melompong. Yah, hanya mencari barang diskonan saja. Kemudian beberapa alat mandi, kurasa sudah cukup. Aku menuju kasir dan membayar belanjaan.
Huft, belanjaan ini cukup berat juga, maklum harus mandiri dan berani menghadapi apa-apa sendiri di sini. Namun aku harus berjalan kaki untuk menuju ke Apartemen. Berjalan menyusuri kota Asuka yang indah ini, aku senyum bahagia, karena seperti mimpi sudah menginjakkan kakiku di tanah Tokyo dan melihat cantiknya bunga Sakura yang memang tampak bermekaran diakhir bulan Maret ini. Sangat pas sekali event ku ke tempat ini. Aku sedikit tergopoh karena harus menenteng dua belanjaan sekaligus pada tangan kiri dan kananku. Sampai aku tak sadar kantung belanjaanku tercecer, dan jeruk-jerukku berhamburan di tengah jalan. Aku panik dan berlari mengejar jeruk-jeruk yang menggelinding. Aku meraihnya satu persatu di jalanan. Sebagian orang-orang hanya melihat saja tanpa membantu. Aku cepat memunguti jeruk-jeruk itu. Hingga berbarengan aku mengambil jeruk terakhir, dan bersentuhan dengan sebuah tangan yang juga hendak memunguti jeruk tersebut, aku melihat ke arah wajahnya yang dekat denganku. Aku menunduk.
“Arigato,” ucapku sambil menundukkan kepalaku. Karena hanya itu kata yang aku bisa di Jepang, aku tidak bisa berbahasa Jepang. Pria itu memandangku dengan pandangan ramahnya dan tersenyum juga menganggukan kepalanya dengan sopan, ciri khas orang Jepang. Dan menyerahkan jeruk itu padaku.
“Anata wa Indoneshia hitodesu ka?” pria itu pun mengucapkan kata yang aku sama sekali tidak mengerti. Tetapi ada kata Indonesianya? Mungkin dia tanya aku orang Indonesia?. Akupun langsung mengangguk. Entah anggukanku benar atau tidak.
“Iya,” kataku, kali ini aku memakai Bahasa Indonesia.
“Maafkan saya, saya belum bisa benar Bahasa Indonesia,” katanya yang sedikit membuatku lega, dia paham bahasa Indonesia.
“Nama saya, Akemi,” kata pria itu lagi sambil menundukkan kepalanya kemudian. Nadanya terdengar kaku, tetapi tidak apa, setidaknya dia bisa sedikit berbahasa Indonesia. Terdengar seperti robot nadanya kudengar. Aku ingin rasanya tersenyum.
“Namaku Sandrina,” akupun memperkenalkan diriku juga.
Sambil membawa barangku, kami pun ngobrol sambil jalan. Sudah itu saja percakapan kami tidak banyak, hanya ia memang bisa berbahasa Inggris. Itu sangat membantuku dalam berkomunikasi dengannya. Dan hanya Bahasa Inggris yang bisa aku mengerti. Alhamdullilah juga dia mengerti Bahasa Indonesia. Penuturan dia mamanya adalah asli orang Indonesia yaitu Kota Solo. Kebetulan sekali, namun Papa Akemi berasal dari Jepang. Akemi hanya baru dua kali pernah berkunjung ke Indonesia. Itupun sudah lama sekali, sisanya ia tinggal dan menetap lama di Jepang.
Akhirnya Akemi membawakan beberapa belanjaanku, jadi lumayan terasa ringan. Obrolan kami menggunakan 3 bahasa, Inggris, Indonesia, dan Jepang. Namun terus terang aku sama sekali tidak bisa berbahasa Jepang.
Akemi adalah pria Jepang yang tampan, ramah, dan sopan. Namun dia tidak sungkan mengajakku jalan-jalan mengitari kota kecil Taito Tokyo ini. Mengenalkan kebudayaan Jepang yang masih asri dan masih amat dilestarikan di tempat ini. Membuatku amat kagum. Sangat kagum. Juga senang dapat teman baru yang bisa memperkenalkan aku dengan daerah di sini.
“Di mana tinggal?” Tanya Akemi, membuatku tersenyum mendengarnya. Sangat kaku Akemi menanyakan dalam Bahasa Indonesia. Kalau menurut Kamus Bahasa Indonesia ini masih Bahasa yang sangat-sangat masih amburadul.
“Tidak jauh dari sini kira-kira 2 kilometer,” ujarku sambil telunjukku menunjuk ke arah jalan supaya dia paham, meski sepertinya aku harus bantu memakai bahasa isyarat memakai tanganku juga.
Ia pun sepertinya mengangguk sekali tanda mengerti.
Akemi tinggi, kira-kira sekitar 170 cm, wajahnya lugu, perawakannya lembut, putih pastinya, rambut hitam pekat lurus, memakai kemeja biru muda berlengan pendek, jam tangan yang sepertinya punya nama Branch itu melingkar di lengan sebelah kanannya. Tidak lupa tas panjang selempang kecil berwarna coklat tua menggantung dipundaknya yang semampai. Memang sangat sederhana, namun sepertinya Akemi bukan jenis pria yang suka memamerkan apa yang dia punya. Menurutku loh. Dan itu membuatku berkali-kali berusaha melirik ke arahnya karena ingin menilai tentang penampilannya. Sedikit kepo juga gak apa kali.
“How long are you in Japan?” tanya Akemi dengan Bahasa Inggris, kali ini aku paham dan kujawab “30 hari,” dengan Bahasa Indonesia. Sepertinya aku ingin dia bisa berbahasa Indonesia. Karena selain berbahasa Indonesia, memakai bahasa asing memang agak pegal juga. Akemi mengangguk. Kami terus jalan keliling-keliling kota Tokyo ini, meski terpencil dan penduduknya sedikit, namun di sini amat nyaman. Akemi mengajakkku ke sebuah taman. Di sini tepat sekali pohon Sakura, dan mataku berbinar menampakkan kekagumanku.
“Waw, Akemi I love this place, Sakura!” seruku. Tanpa perduli suaraku yang keras. Akemi bilang di akhir Maret memang saat yang tepat untuk melihat Sakura bermekaran, itu amat indah. Kami berdua duduk di kursi taman yang panjang terletak di sebelah pohon Sakura. Memang di Taman ini belum sempat aku kunjungi, di sini ramai, banyak orang berjalan-jalan sekedar santai menikmati weekend di musim semi ini. Akemi tersenyum tulus melihatku begitu senang. Sambil menikmati sebungkus makanan kecil kami berdua duduk di bangku taman. Ngobrol dan mengenal lebih dalam masing-masing.
Sampai larut, barulah Akemi mengajak untuk pulang.
“ Sandla, I got you back home,” Akemi menawarkan mengantarkanku pulang. Karena memang sudah amat larut, meski di sini semakin malam semakin ramai. Dan kebetulan memang Akemi juga harus pulang ke rumahnya. Akupun meng-iyakan.
Akemi mengantarkanku sampai tangga bawah pintu apartemen. Ia tidak perlu ke atas sampai ke dalam kamarku. Karena akupun hanya mengijinkan ia sampai tangga bawah saja. Aku membalas senyumannya yang hendak beranjak untuk meninggalkanku dari tempatku berdiri.
“Terima kasih Kemi,” begitu ucapku, dan entah lah kenapa aku bisa langsung saja memanggilnya dengan sebutan Kemi, seperti panggilan kesayangan saja. Atau seperti yang sudah akrab saja. Tidak lupa aku tundukkan kepalaku sekian detik.
Akemi menundukkan kepalanya juga “Sama-sama selamat tidur Sandlina.” tundukannya lebih lama, kurang lebih 3 detik.
Orang Jepang menyebutkan ‘R’ memang kedengaran seperti cadel, kali ini aku tidak perduli. Biarlah. Toh memang dia mengucapkan namanya dengan benar, hanya beda dilidahnya yang tak bisa ku salahkan, dan aku pahami saja.
Aku menaiki anak tangga menuju ke kamar apartemenku yang terletak di lantai 2. Sembari merogoh tas kecilku mencari kartu pembuka pintu door card.
Week end nanti Akemi berjanji mengajakku keliling Kyoto. Aku menyetujuinya. Karena memang itu yang kuinginkan yaitu ada yang mengajak mengenalkanku seperti apa lebih dalam tentang kota Kyoto ini. Dan apalagi di pandu dan ditemani cowok Jepang setampan dan sesopan Akemi.
Setelahnya aku selesai bebersih diri, sudah kelar mandi. Wangi dengan bedak bayi yang aku bawa selalu dari Jakarta. Dan memang bedak ini adalah khusus bayi yang selalu aku bawa ke mana-mana. Bentuknya yang kecil dan setiap habis, aku selalu membelinya kembali. Karena setelah memakainya memang serasa segar. Apalagi kalau di rumah, di Jakarta. Di saat kakak ku bertandang ke rumah pasti ponakannku yang memakai bedak bayi itu selalu aku cium-ciumin karena baunya lembut, dan bikin aku gemesss.
Di malam ini aku sempatkan untuk menonton acara televisi yang semuanya acara mayoritas berita-berita. Huft, tidak adakah chanel hiburan? Keluhku, dan rasa mengantuk akhirnya menerjang akupun langsung saja terlelap. Kebetulan sekali besok harus bekerja dan bangun sangat awal. Padahal aku dan Akemi lumayan malam dan larut pulangnya.
Sejak pagi tadi aku berkutat dengan pekerjaanku yang full of the day. Namun makan siangku memang tak kulewatkan begitu saja. Aku tetap menyempatkan makan siang dan tidak pernah telat. Karena aku berpikir itulah amunisiku untuk dapat semangat bekerja kembali. Dan tidak kecapean.
Tepat sekali, di jam yang pas. Akemi menghubungiku melalui telepon selularku. Dan aku reflek langsung mengangkatnya. Karena masih di dalam ruangan kantor, dan tentunya sunyi. Sehingga suara bel handphone terdengar nyata dan kencang. Aku segera menuju ke luar ruangan untuk mengasingkan diriku.
“Ya…” jawabku.
“Selamat siang Sandla, bisa kita bertemu nanti?” suara Akemi tampak terputus-putus, namun aku sempat jelas mendengarnya. Aku sebenarnya bingung menjawab dengan menyetujuinya saat itu juga. Namun setelah aku berpikir secara kilat, aku langsung menyetujui nya saja. Jujur aku pun ingin bertemu dengannya lagi.
“Baik,” ucapku setuju, sambil cepat membungkukkan kepalaku. Padahal Akemi juga tidak melihatku. Sekalian lah belajar sopan santun yang dipakai di sini. Jadi aku tidak akan kaku setiap bertemu dengannya yang sopan itu dan amat lentur dengan sikapnya padaku. Maksudnya ia benar-benar menjamu aku yang memang berasal dari Indonesia asli.
Rupanya Akemi ini begitu sulitnya menyebut huruf ‘R’. Tetapi biarlah aku tidak menjadikan ini masalah besar. Namun kenapa kok aku jadi salah tingkah begini ya? Menanti waktu jam kantor berakhir? Duh rasa apakah ini namanya? Aku tidak berani menjawab saat ini. Hingga sesudah tadi kututup sambungan telepon dengannya pun aku masih saja melihat layar laptopku hanya membuat mataku perih tidak seperti biasanya.
Lirikanku sudah tak terhitung berapa kali melihat jam bergerak dipergelangan tangan kananku. Lirikan entah yang keberapa aku tak tahu. Akhirnya sudah sampai kumelihat jarum jam tanganku menunjuk angka 5. Dan waktunya berbenah untuk pulang dan merapikan meja kerjaku seperti rutinitas biasanya setiap hariku di jam-jam seperti ini.
Aku langsung saja pamit dengan Mr. Tadao yang masih berada di meja singgasananya. Aku membungkukkan tubuhku kepadanya. Ia pun menunduk sambil tersenyum. Aku dan Mr. Tadao lebih berbicara ke dalam Bahasa Inggris, karena Mr. Tadao memang mempergunakannya pada setiap hari di lingkungan kantor. Mr. Tadao adalah atasanku di sini. Asli berasal dari Jepang, dan tentu saja ia memakai Bahasa International yaitu Inggris. Yang bekerja di sini bukan semuanya orang Jepang, berbagai negara ada. Termasuk Indonesia. Karena biasanya kami adalah karyawan yang hanya ditugaskan sementara sebagai perwakilan perusahaan pada kantor di negara asal kami bekerja. Mayoritas bergerak di bidang Export dan Import.
Inilah sebuah tradisi di Jepang, selalu menundukkan dan membungkukkan badan tanda menghormat pada orang lain. Siapapun orangnya. Aku rasa sangat menakjubkan. Karena sangat sopan dan perlu dicontoh.
Aku pun melayangkan kedua kakiku dengan santai, meski tidak sekompak hatiku yang agak berdetak untuk siap menemui pria tampan Japanesse itu. Akemi. Aku tetap dengan jaket tebalku yang sangat berat, rasanya seperti menggendong seorang bayi mungil beratnya. Biarlah. Karena memang itu harus ku kenakan.
Keluar kantor aku melihat dari jarak yang lumayan tidak begitu jauh, Akemi tengah duduk membelakangiku, rupanya ia sedang sibuk dengan telepon selularnya. Ia dari belakangpun sudah terlihat sangat memikat bagiku, dengan kemeja rapinya, kali ini ia memakai kemeja hijau muda yang berlengan panjang. Rambut seperti biasa tersisir amat rapi. Tas kecil yang selalu menemaninya ia geletakkan di sebelah ia duduk. Aku semakin mendekatinya. Dan ia ternyata sedang bermain game. Aku tersenyum simpul sebelum menegurnya.
“Akemi?” aku pun ramah menegurnya pelan.
Akemi menoleh cepat, dan seketika ia exit game yang tadi ia mainkan. Padahal kan sepertinya lagi seru. Kalau aku yang sedang bermain game seperti itu pasti diselesaikan dulu setengah permainan, namun ini tidak bagi Akemi.
Akemi langsung beranjak dan sekilat membungkukkan badannya sekali saja. Aku berasa dihormati, padahal konon kan wanita Jepang yang seharusnya begitu pada seorang lelaki. Ah, mungkin karena aku adalah tamu di Negaranya. Biar sajalah. Pikirku.
“Terima kasih Akemi, sudah menunggu lama di sini,” ucapku kemudian.
“Tidak mengapa,” balasnya, kembali kali ini hanya wajahnya saja yang dianggukkan. Kelihatannya itu lebih baik.
Akemi dan aku langsung saja berjalan bersama menuju keramaian batas kota. Kami menaiki kereta menuju taman Ueno, yang memang tidak begitu jauh dari Apartemenku. Mungkin sengaja Akemi mengajakku ke situ supaya tidak jauh dari Apartementku jika nanti aku harus larut kembali. Yang aku tahu di situ memang ada area pasar jalanan, yang menjual berbagai barang barang dari yang biasa sampai branded. Pasar ini bernama Ameyoko, barang diskonan juga ada. Dan pedagang-pedagangnya semangat, aku jadi ingat pedagang-pedagang grosiran di Indonesia. Seperti Pasar Grosir Cililitan yang semangat menjajakan dagangannya. Kalau suka banget berbelanja bisa juga ke tempat ini di pasar Ameyoko. Tadinya aku hanya mendengar ceritanya tetapi sekarang Akemi mengajakku ke sini. Dan itu benar-benar membuatku senang sekali. Refreshing sedikit sehabis seharian berkutat di depan laptop dan melakukan presentasi. Tahu saja Akemi ini membuatku senang. Jadi tidak sia-sia aku menghabiskan waktu menjelang malam ini di luar bersama Akemi menikmati pohon-pohon Sakura yang menyala terpantul lampu taman dan kembang api yang berpencaran di atas dan sangat indah nyala percikannya. Aku juga pernah bilang bahwa aku sejak dulu menyukai Sakura. Akemi mengangguk saat aku menceritakan kalau aku memimpikan bisa melihat Sakura. Dan Akemi mengabulkannya malam ini kepadaku untuk bisa menikmati indah di District ini.
Kami berjalan sepanjang pagar yang membatasi pepohonan Sakura di pinggir trotoar pejalan kaki. Berjalan dipayungi rindangnya pohon Sakura yang tengah bermekaran begitu indah dan mempesona.
Kami mampir sebentar di sebuah Kafe yang aku lihat pada plang namanya adalah Kafe Park Side. Dikatakan memang dekat dengan hutan Ueno. Akemi mengajakku duduk-duduk saja di pinggiran terasnya Kafe tersebut, sambil memesan secangkir kopi panas dan aku memesan kopi krim kesukaanku, begitu juga dengan Akemi. Namun dengan rasa yang berbeda.
Aku sekilas sempatkan melirik ke arah Akemi. Berkataku dalam hati, bahwa dia ini memang benar-benar tampan. Yah, meski memang tidak membuat semua orang langsung sadar yang melihatnya bahwa ia ini tampan. Dia juga aku tebak bukanlah seorang perokok, kok aku bisa tau? Jelas, bibirnya merah jambu. Aku pun langsung tersenyum sembunyi-sembunyi sambil memutar bola mataku sedikit ke ujung kiri mataku. Aku pun melihat ia tampak sibuk dengan posisi duduknya. Rupanya ia hendak mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Ia mengeluarkan sebuah dompet. Sepertinya itu dompetnya. Dompet berwarna coklat sawo matang yang didesign khusus dompet pria. Serta lagi-lagi aku lihat itu adalah punya nama Branded. Akemi sepertinya memang barangnya punya nama dan ia tidak pernah menampakkannya. Atau kalau kebanyakan orang bilang pamer.
Aku pun menyentuh luaran cangkir kopi mungil berwarna putih, yang masih berisi kopi cream panas. Kutambahkan sedikit gula cair yang memang sudah sekalian disuguhkan. Tentu saja kopi creamnya perlu sentuhan sedikit gula. Karena sebenarnya aku tidak terlalu suka yang terlalu manis. Sambil mengaduk pelan memakai sendok kecil matakupun berjalan ke arah bawah kaki menyempatkan melirik sepatu Akemi yang bersih terawat. Sepatu saja terawat, apalagi merawat dirinya? Ia pasti pria yang amat telaten. Jarang-jarang pria seperti ini. Meski terlihat sederhana, namun dapatlah dikatakan sederhana yang ekslusif.
Aku tidak lama memperhatikan sepatunya memang, karena mataku langsung tertuju pada potongan kertas berukuran kurang lebih sebesar ukuran 6×5. Berada tepat di ujung sepatu Akemi. Aku langsung saja memungutnya. Dan ternyata itu adalah sebuah foto, iya foto seorang gadis Jepang sepertinya, aku memicingkan mataku sambil memperhatikan dengan seksama. Seketika Akemi kilat menegurku. “Apa itu?” tanyanya langsung. “Coba aku lihat,” lanjutnya lagi.
Aku pun langsung saja menyerahkan padanya. Gelagatnya terlihat aneh, dan ia memasukkan foto itu ke dalam tasnya secara serampangan. Obrolan kami tertahan diam, dan memang aku pun juga diam. Kalau aku penasaran memang, dan Akemi pun menjadi berubah. Jadi pendiam. Kenapa ia harus memasukkan foto itu ke dalam tasnya?
Aku beranikan ingin menanyakan foto itu. Namun sayang, Akemi lebih dulu membuka suara yang hanya membahas rasa kopi itu.
“Di sini kopinya lumayan enak,” begitu ujarnya. Terdengar garing.
Aku tersenyum, suasana memang seperti berubah di antara aku dan Akemi. Akemi kelihatan banyak berpikir, terlihat dari rautnya. Aku mengingat amat jelas gadis berkimono itu, dengan poninya, rambut tebal sepundak, mata sedikit sipit, putih. Ia kelihatan seumuran dengan sepupuku Clarisa yang masih berumur 19 tahun. Atau ini adiknya Akemi? Tanyaku kemudian dalam hati.
“Adikmu?” entah tidak sabar atau bagaimana, suaraku sudah tidak tahan untuk keluar, dan akhirnya pertanyaan itupun muncul. Kepoku berlebihan. Akemi menunduk lama sekali, lebih lama dari biasanya. Dan kalau aku ingat sekitar 10 detik. Cukup lama dibanding biasanya. Aneh.
Akemi seperti salah tingkah, dan masih saja itu kelihatan jelas dimataku. Ia sangat gugup.
“Bukan siapa-siapa,” jawabnya singkat. Aku mengerutkan kening, sambil menggidikkan kedua pundakku.
Cangkir Akemi sudah terlihat kosong saja, rupanya ia haus. Sementara aku, masih setengah saja. Karena aku sesap sedikit-sedikit, sambil menikmati suasana sore menjelang malam ini. Yang sudah terlihat gelap. Lampu-lampu mulai menyala satu persatu. Setelah Akemi membayar Bill nya kami pun beranjak dari situ. Untuk melanjutkan malam singkat ini. Karena besok aku harus bekerja kembali.
Sepanjang jalan, Akemi banyak bercerita tentang tempat kelahirannya ini. Juga museum-museum dan tradisi-tradisi yang sebenarnya masih dijaga di Negeri ini. Berbeda dengan aku, aku malahan tidak begitu menyimak serius. Malahan aku mengingat terus foto gadis Jepang yang cantik itu. Adik Akemi? Akemi tidak cerita ia mempunyai adik? Dan ia pun bilang itu bukan siapa-siapa? Lalu siapa? Mungkin ia tadi malas membahasnya. Dan mungkin menurutnya itu sangat tidak penting untuk kuketahui. Padahal bagiku aku ingin sekali mengetahuinya. Malahan sangat ingin. Tetapi aku akhirnya tidak terus-terusan larut dengan pikiran itu.
Kira-kira jam 10 malam akupun segera meminta pulang ke apartemen. Akemi tampak terlihat serba salah, entah juga mengapa aku tidak tahu. Yang pasti aku rasanya sudah lelah berjalan-jalan. Mungkin lain hari aku rasa masih bisa berjalan-jalan kembali. Akemi menyetujuiku. Ia pun mengantarkanku seperti biasa sampai tangga paling bawah apartemenku. Karena memang aku tidak pernah mengijinkan Akemi ke atas. Kemudian ia pun pamit dan membungkukkan tubuhnya sekali saja. Aku membalasnya dengan anggukan ku.
Bagi orang Jepang nama Akemi adalah berarti Senja Hari, senja bagiku adalah indah. Seperti sore hari yang cerah ini, langit mulai menampakkan senja harinya yang jingga nan ranum. Kemudian dihiasi oleh senyumku yang membayangkan pria tampan lugu bernama Akemi. Yang aku kenal di Negeri Sakura ini. Aku merasakan hariku selalu indah sejak berkenalan dengannya. Sikap ramah dan sopannya selalu membuatku tersipu jika teringat akan dia. Sejujurnya setiap detik aku selalu mengingatnya. Ingin rasanya lebih lama lagi di Negeri ini. Namun apa daya aku seminggu lagi harus sudah kembali ke Indonesia. Ke Jakarta. Ketemu si bawel Sisil yang ngangenin itu. Sisil adalah adikku yang masih SMP. Maklum masih ABG Zaman Now jadi masih bawel, cerewet itu wajar. Aku mendengarkan saja lah setiap dia hendak curhat. Datang tiba-tiba ke kamarku hanya sekedar cerita-cerita sambil ngoceh gak pake titik. Itulah sedikit tentang Sisil adikku semata wayang yang paling cantik itu. Tentu saja aku rindu juga sama mama dan papa di Jakarta. Kangen meluk mama. Kalau lagi sedih memeluk mama itu rasanya tentram, hangat dan damai hati ini. Seperti sekarang, rasanya kepingin membenamkan diriku ke dalam pelukan mama.
Aku melirik jam di meja kecil sebelah tempat tidurku. Juga Handpone yang kugeletakkan di situ. Tampak berkedip-kedip seperti ada telepon masuk. Aku langsung meraihnya. Kalau bukan bosku ya siapa lagi? Dan benar, Akemi!
Aku buru-buru menjawabnya. “Iya, Akemi” aku menyapa dengan suara datar.
“Aku ingin bertemu…” nada suara suara Akemi seperti terdengar mengambang. Tentunya aku menjadi penasaran. Sempat tidak perduli logatnya yang memang kaku dalam berbahasa Indonesia itu. Yang tengah kuperdulikan, dan membuat keningku berkerut lama adalah tumben ia ingin menemuiku besok malam? Bukankah kemarin sudah bertemu? Akupun diam sesaat, kemudian menampakkan senyumku dan menjawab langsung.
“Baiklah Akemi aku tunggu di taman Sumida,” itu saja jawabanku. Ada raut senang diwajahku. Entah apalah mungkin ada cinta dihatiku ini? Ah sepertinya aku berlebihan. Aku pun mencomot sebuah jeruk dari dalam lemari es mini yang terletak tidak jauh dari tempat tidurku. Sembari membayangkan Akemi. Iya, wajahnya yang tampan dan polos itu. Kalau membandingkan dengan wajah temanku Doni, yang katanya paling ganteng di kantorku di Jakarta, aku rasa Akemi tetap juaranya. Doni, masih dibilang jauhlah. Akemi lebih amat tampan. Kalau membayangkan wajah-wajah artis korea? Ya itu, Akemi.
Hem, aku berpikir sejenak. Mungkin besok malam ini tidak bisa berlama-lama juga aku bersua dengan Akemi. Karena akupun tidak terbiasa bertemu jam malam seperti itu. Meski di sini memang semakin malam akan semakin ramai dan banyak sekali pasar malam juga festival-festival kembang api. Meski yah, di sini tidak banyak kelihatan orang-orang yang berleha-leha meski itu hari libur. Mereka akan terlihat begitu sibuk dengan aktifitasnya masing-masing. Kesibukan penduduknya yang tidak pernah berhenti.
Aku segera mengambil tas mungilku untuk aku selempangkan di tubuhku karena aku sudah selesai mandi dan berpakaian, hanya dengan polesan lipgloss berwarna peach saja dan sedikit polesan bedak. Karena aku selalu menyukai make up alami. Apalagi bukan sesuatu yang formil-formil amat. Jadi ya apa adanya sajalah.
Aku duduk termenung di taman Sumida di bawah rindangnya pohon Sakura merah jambu. Begitu teduh dan nyaman. Kami janjian di tempat ini lagi, tempat pertama kali kami bertemu. Aku sempat membayangkan saat itu, waktu belanjaanku berhamburan di jalan dan Akemi membantu memungutinya dengan sangat sopan. Dan itu lah akhirnya kami bisa berkenalan dan akrab. Kalau tidak ada insident itu mungkin kami tidak akan pernah bertemu. Malahan sudah beberapa kali kami bertemu. Seperti sekarang, kemarin sudah bertemu dan malam ini ia mengajakku bertemu kembali. Sungguh membuatku semakin menaruh hati perlahan padanya. Aku merasakan sedikit beda, apakah aku jatuh cinta padanya?
“Sudah lama menunggu?” suara Akemi tiba-tiba mengejutkan lamunanku. Dan sanggup merubah wajahku menjadi terlihat senang. Wajah Akemi yang terpantul lampu jalanan itu sangat tampan. Dan aku sempat terpana, namun aku mencoba untuk tidak menampakkannya. “Tidak, aku belum lama kok, baru saja sampai” jawabku dengan penuh senyum. Akemi membungkukkan tubuhnya mengucap salam selamat malamnya. Aku segera bergerak berdiri membalasnya dengan anggukanku juga. Akemi tak lupa tersenyum juga.
Tanpa aku duga Akemi langsung menarik tanganku, aku kaget namun aku ikuti saja, ia tetap menarik dan menggenggam tanganku semakin erat. Jemarinya yang dingin terus tak melepas genggamannya sedikitpun. Jika kuhitung waktunya kira-kira 10 menit ia terus menggandeng tanganku mengitari malam dingin di sepanjang taman Sumida. Melintasi sungai di dekat situ.
Sungguh aku kebingungan, sesekali aku meliriknya. Mimik wajah Akemi saat itu seperti enjoy sendiri tanpa memikirkan apapun. Seolah ia menarik tanganku, dan tangan yang sepertinya tak ada pemiliknya. Sehingga ia bebas membawa ke mana pun ia mau. Tanpa memperdulikan ada aku si empunya tangan itu. Bodohnya tak sedikitpun inginku untuk menanyakan ada apa. Setelah kupikir-pikir, kenapa dia ya? Kesambet? Tanyaku dalam hati. Entahlah, sepertinya ada yang tidak beres dengannya. Akemi tampak aneh sekali hari ini. Ia terus menarik jemariku, hingga aku akhirnya berhenti dan menarik lekas jemariku dari genggaman tangannya. Lama-lama aku penasaran dengan sikapnya yang aneh hari ini. “Stop Akemi!” perintahku sambil gugup kupandang wajahnya. Dan kami pun saling berpandangan sesaat. “Ini kenapa? Kamu menarik tanganku? Berjalan cepat lalu aku mengikutimu, dan kita tidak berbicara apapun? Apa maksud semua ini Akemi?” entah aku benar-benar tak sanggup membayangi raut wajahku saat itu. Mungkin tanpa kusadari emosi tidak jelasku muncul.
Akemi membungkukkan tubuhnya lama sekali, hingga rambutnya ikut menjuntai ke bawah. Aku saat itu merasa seperti sulit mengeluarkan kata-kata demi melihat Akemi dengan sikapnya itu. Aku kemudian melebarkan kelopak mataku seiring kudengar kalimat darinya. “Sandrina!” ucapnya masih posisi membungkukkan tubuhnya. “Aku mencintaimu!.” Seketika saja serentak seluruh darahku terasa naik ke atas kepalaku. Bibirku kelu terkatup rapat. Kelopak mataku saja yang tiba-tiba perlahan mengecil, leherku seperti terasa dingin dan tepat ditengkukku yang saat itu rambutku memang hanya kukuncir satu ke belakang. Karena sebenarnya rambutku hanya sebahu, jadi terlihat beberapa helai saja yang tidak terikut dan memperlihatkan jenjang leherku. Kukuncir seperti buntut kuda. Akemi kemudian perlahan menegakkan badannya kembali, wajahnya tepat ke arahku, matanya begitu tajam memandang ke arah ku. Tidak berkedip sedetikpun. Begitupun denganku, namun bibirku bergetar sedikit samar, seperti berkecamuk pikiran saat itu. Kami hanya bisa diam, Akemi meraih kedua tanganku dan menggenggamnya dengan kedua tangannya. Tebakanku saat itu adalah bahwa tanganku sangat terasa dingin, tetapi kenapa aku malahan merasakan telapak tangan Akemi hangat dan sedikit berkeringat. “Aku mencintaimu, Sandrina..” suara Akemi kembali terdengar dan mengulang kata yang sama. Hanya saja sedikit terdengar lebih lembut. Kali ini matanya semakin tajam dengan jarak yang lebih dekat beberapa centimeter ke wajahku. Aku berasa ingin pingsan saja. Sejenak berpikir, bukankah aku yang selama ini menyimpan rasa itu? Ternyata Akemi memiliki perasaan yang sama denganku. Aku seperti beku seluruh tubuh. Tidak tahu harus berbuat apa. Apalagi Akemi pun seperti membisu dan kaku. Kelihatannya ia juga ragu, namun harus mengatakannya padaku. Akemi mengambil sesuatu dari dalam tasnya, terlihat ia begitu gugup melakukannya. Akhirnya ia mengambil sebuah foto yang ia perlihatkan padaku, aku pun terkejut. Foto seorang gadis yang kemarin pernah terjatuh dari dompetnya dan sempat ia rebut dariku, kemudian aku tanyakan perihalnya ia hanya menjawab bukan siapa-siapa. Lalu apa artinya itu? Semua semakin membuatku penasaran tingkat dewa. “I-ni,” Ucap Akemi terbata. Aku diam menanti kalimatnya. Lama, lumayan sekitar beberapa menit. Ia menunjuk seseorang dalam foto itu. Aku pun masih terdiam. “Hikaru!” ujarnya kemudian. Kumiringkan kepalaku sedikit. “Hikaru?” akupun menanyakan nama itu. “Haik!” Akemi membungkuk. “Tunangan saya,” Suara Akemi amat jelas sekali, dan ia tidak perlu mengatakannya kembali. Atau mengulangnya lagi. Kata-kata itu sudah cukup jelas buatku dan juga cukup jelas sekali untuk membuatku seperti tertampar kedua pipi ini bergantian. “Akemi, ini tunanganmu dan kamu bilang kamu mencintaiku?” aku memberanikan diri mengeluarkan kata-kata sekaligus menutupi perasaanku yang tidak karuan saat itu. Agar bisa terasa lebih tenang. Ternyata sulit. Akemi meraih kedua tanganku, dan ia pun seperti ingin berbicara padaku, dan tidak ingin aku berpaling padanya. “Saya tidak mencintai Hikaru, saya mencintai Sandrina,” sebuah kalimat yang terlontar darinya membuatku seperti berada di atas perahu yang sebentar lagi akan tenggelam secara perlahan. Dan aku tidak kuasa menghindarinya. Akemi mengajakku duduk di bangku taman yang terletak tidak jauh dari tempat kami berdiri tadi. Aku mengikutinya. Kami duduk perlahan di bangku tersebut dengan dipayungi beberapa ranting bunga Sakura yang tepat di atas kepalaku. Baru kali ini aku merasakan Akemi yang serius dengan ucapannya. Biasanya selama aku bersamanya ia adalah pemuda yang sopan dan tanpa pernah mengutarakan sesuatu yang bernama cinta, dia begitu pendiam dan hampir terlihat lugu, bahkan aku sempat berpikir bahwa Akemi adalah anti dan sangat canggung dalam hal cinta. Meski bagiku ia amat sangat tampan. Perempuan mana yang tidak menginginkan ia menjadi pujaan hatinya.
Akemi jujur padaku saat itu, bahwa orang tuanya hendak menjodohkannya dengan seorang gadis, bernama Hikaru, Hikaru adalah perempuan di dalam foto itu yang kemarin aku pikir dia adalah adiknya karena amat sangat imut dan masih terlihat muda. Ditambah Akemi hanya mengakui bahwa itu bukan siapa-siapa. Itu lah yang membuatku penasaran dengan jawaban Akemi. Itupun membuatnya gugup saat itu, dan membuat dirinya juga berubah total sikap dan perilakunya saat itu. Membuatku kehilangan mood sama sekali. Semakin membuatku terkejut adalah ia mengatakan bahwasanya ia tidak mencintainya.
Ternyata pertemuan itu bukan hanya aku saja yang menyimpan suka padanya. Ia adalah yang lebih dulu menyukaiku. Jadi selama ini aku tidak pernah menyadarinya? Karena melihat sikap Akemi itu yang biasa saja. Bahkan aku sibuk berpikir bahwa Akemi punya pemikiran teramat jauh tentang cinta. Kemudian hanya akulah yang selalu mempunyai rasa jatuh cinta itu. Pantas saja Akemi sama sekali tidak memberitahukanku tentang perihal foto itu, ternyata itu adalah gadis yang akan dijodohkan orang tuanya.
“Tidak Akemi, kamu harus mematuhi kehendak orang tuamu.” Begitu ucapku akhirnya. Entah ini keterpaksaan yang harus aku katakan atau bukan, yang pasti aku tidak pernah mau membuat perasaan Hikaru sakit. Karena kami sama-sama perempuan lagipula pasti jika Hikaru tahu ia akan sangat sedih. Meskipun aku sudah mulai jatuh cinta padanya. Beruntung aku masih bisa menahan rasa itu. Namun sebenarnya aku kecewa mengetahuinya. Akemi tak pernah berpikir aku juga menyukainya. Rupanya kami sama-sama saling menyimpan rasa tetapi kenyataan berkata lain. Dia sudah akan dijodohkan oleh orang tuanya.
Minggu depan aku sudah harus kembali ke Indonesia. Dan membuatku seperti berbeda, aku merasa hatiku hampa. Hampa dalam arti aku seperti mencintai seseorang yang dia belum mengetahui sama sekali, kemudian nyatanya dia lah yang mencintaiku. Tetapi aku pun harus kembali ke Indonesia dengan membawa duka hati terdalam. Yang sebenarnya aku harus siap menyimpannya. Bahkan dari seorang Akemi sekalipun, ia tidak mencintai Hikaru? Tetapi kenapa? Hikaru sangat cantik kurasa. Dan ia pasti amat sangat mencintai pria ini. Lalu, mengapa justru ia lebih memilihku yang baru saja ia kenal dan bahkan kami belum lama saling mengenal satu sama lain.
“Watashi wa anata ga sukidesu”, Suaranya begitu lirih terdengar.
“Gomen nasai”, lanjutnya kemudian.
Aku terdiam, semakin tidak mengerti harus bagaimana berkata. Akupun bahkan tidak mengerti apa arti yang sedang ia katakan. Dan aku tak memperdulikan sama sekali.
Akemi mengatakan bahwa ia sejak awal melihatku sejak kejadian accident, semua jeruk yang ada di dalam tas belanjaanku berhamburan menggelinding dan Akemi membantu memungutinya. Sejak itu Akemi langsung jatuh cinta padaku. Ya ampun jadi selama ini kami menyimpan rasa yang sama? Dan kami begitu bisa menutupinya dengan amat rapi. Akemi mengatakan bahwa ia mendambakan wanita Indonesia seperti papanya yang menikah dengan wanita Indonesia. Akemi ingin seperti itu, meski papanya menentangnya. Kemudian menjodohkannya dengan Hikaru. Bukan pula menirunya. Namun Akemi mengatakan ia sangat tulus menyanyangiku. Aku semakin tak menentu. Namun akhirnya aku memutuskan pada pendirianku yang harus kuat aku kukuhkan, bahwa aku harus menolaknya. Ini lantaran aku tidak mau menyakiti hati Hikaru. Ia pasti akan sakit sekali jika lelaki yang dicintainya mencintai orang lain. Akupun menolaknya dengan tegas. Kemudian karena Akemi bersikukuh, akupun meninggalkannya dengan terpaksa di situ. Aku pergi meninggalkannya yang masih diam terpaku kaku. Meski hatiku tidak tega aku harus melakukannya. Dan mulai meninggalkannya di situ.
Aku semakin tidak sanggup untuk tetap lebih lama di situ. Aku sangat menyukai dia, namun aku tidak pernah sanggup untuk bisa terus memanjakan rasa ini untuk masih menyimpan rasa yang seharusnya tidak perlu aku pertahankan.
Aku berjalan kembali menyusuri bebungaan Sakura yang begitu indah, ditemani oleh gemerlapnya lampu taman yang membuat bayangan dedaunan yang bergoyang tertiup lembutnya angin yang tak terasa. Musim semi yang membuatku merenung sambil entah apa yang sedang kulakukan malam ini. Berjalan tak tentu arah. Inikah impianku sejak kecil? semua sudah terwujud? Dan inikah yang terjadi? Justru malahan membuat sebuah kenangan yang menyakitkan dan tak pernah kusangka akan seperti ini pada akhirnya. Impian yang sejak kanak-kanak kudapatkan, dan memang sudah kudapatkan. Inilah.
Aku pun terus menyusuri jalan tanpa arah, dengan syal merah jambuku, yang tak kupikirkan tengah menjuntai ke arah paling bawah hingga menemui lututku. Hatiku berkecamuk. Hatiku pun bahkan tak berani berteriak. Seperti apa yang kuingin lakukan saat ini, yaitu berteriak sekencang mungkin. Agar kubisa lebih plong dan lega. Namun apa daya, ku tak mungkin melakukannya.
Kami memang sering bertemu, menikmati gemerlapnya suasana kota Tokyo di malam hari. Musim semi diakhir bulan Maret ini membuat hatiku selalu dibuat ramai oleh Akemi. Aku tidak pernah sadar dan tahu kalau hari itu adalah hari yang amat mengejutkan dan menyesakkan hatiku. Pada akhirnya Akemi mengutarakan bahwa ia sudah bertunangan dan aku teramat terkejut. Aku menyukai Akemi dan mengaguminya, hingga aku mulai jatuh hati padanya. Rupanya ia juga mempunyai rasa yang sama. Tetapi kami tidak dapat berbuat apa-apa. Karena dia pun tidak mungkin membantah orang tua nya. Itu bukan tipe Akemi. Begitupun aku, yang tidak mau menyakiti hati perempuan yang mencintai Akemi.
Ku sampai pada apartemen ku, aku lelah. Makanya aku langsung saja menuju pulang ke apartemenku untuk beristirahat, karena besok aku harus ke Indonesia dan tentunya aku akan packing barang-barangku, mungkin saja ada yang tertinggal. Ada rasa senang hendak balik ke Negeri tercinta, namun ada juga rasa lain yang harus aku tinggalkan di sini, yaitu rasa cinta yang tidak mungkin aku bawa pergi. Karena semua rasa itu sangat tidak mungkin terbawa sudah. Berkeras hati ini harus meninggalkannya di sini.
Tepat sampai di depan pintuku aku mengerutkan keningku tipis-tipis, kulihat dan kupandangi dengan heran kotak berwarna krem muda itu dengan tutup transparan dapat langsung kulihat dengan jelas, bahwa itu seperti bahan gaun berwarna merah jambu. Kusegera meraihnya, karena kepenasaranku. Kutak langsung membuka amplop yang berwarna putih itu dengan stiker penutup tutup amplop berbentuk hati. Terpampang nama berhuruf besar “SANDRINA” di bawah stiker hati itu. Langsung kubawa masuk ke dalam kamarku. Kulangsung letakkan pada meja kecil di samping lampu kerjaku. Sementara aku bersalin baju sebentar. Dan menaruh tas besarku dahulu. Agar aku dapat segera membuka dan membaca siapa pengirimnya. Setelah segelas air mineral kuteguk hingga habis, saatnya kubuka kotak cantik itu. Kotak berwarna krem muda yang bertutup transparan, hingga benda di dalamnya jelas terlihat mataku. Kubuka perlahan amplopnya segera. Meraih kertas yang terlipat rapi, bergaris hitam dengan tinta berwarna keperakan. Kumulai membacanya.
Memang cinta itu bukan ini
Memang kumencintaimu, tetapi tidak dengan ini
Maafkan jika aku membohongi
Tetapi karena kumencintaimu
AKEMI
Mataku berkaca dan ku tak berani memejamkan barang sedikitpun, karena jika iya pasti air mata ini akan mengalir teramat deras. Ku raih gaun merah jambu itu, ku lebarkan. Seketika tampak indahnya kimono yang hampir tak kuasa ku memandangnya lebih lama. Ini adalah sebuah gaun terindah yang kuimpikan. Ku kembali mengingat saat kecilku mengarang membuat gaun kimono memakai kain mama yang ku buat laksana kimono Jepang. Dan itulah yang kuidamkan. Teramat sakit bayangan itu harus tiba-tiba terlintas. Kucoba menepisnya, aku pun tersenyum simpul dan sedikit memejamkan mata bersamaan dengan menetesnya air mataku yang sempat tertahan dan tergenang tadi. Senyum yang kubuat setenang mungkin. Akemi sangat paham harus memberiku kimono indah ini. Darimana ia tahu aku sangat menginginkannya? Memang pada awalnya ia sudah mengetahui, padahal ia hanya mengetahui aku sangat menyukai warna pink, itu saja. Bahkan ia tak tahu bahwa aku menyukai kimono. Kembali ku lipat gaun itu dengan rapi dan ku taruh pada meja kerja kecilku. Tak lepas juga mataku masih memandangi kotak panjang itu. Sama sekali ku tak mau sambil berpikir saat itu, aku takut teringat semua kenangan dahulu yang sebenarnya amat kuiginkan terjadi. Dan memang terjadi. Namun tak begini.
Suara lembut ponselku berdering, dan kubuka mataku yang masih teramat lekat ini. Ke arah ponsel dan nama mama terlihat di situ. Ku cepat saja menjawabnya. Karena mama menelpon sepertinya mengingatkan aku harus siap-siap ke bandara dan kembali ke Indonesia hari ini. Mungkin mama khawatir aku akan terlambat. Atau saja kesiangan.
“Ya Ma?,” jawabku langsung, sambil mata kembali ku meramkan.
“Hei, anak mama sudah siap semua? Jangan sampai ada yang tertinggal. Packing Sandrina, mama akan jemput nanti di Airport bersama dengan papa dan adikmu.” Suara mama bertubi-tubi padahal aku telah sedikit membuka mata dan sempat juga melihat foto kami yang aku letakkan pada figura berdiri di meja kamarku. Foto mama, papa dan Sisil. Aku rindu mereka, sambil sedikit kulebarkan senyum tipisku dengan mataku yang masih sedikit terbuka. Apalagi Sisil, ku kangen dia. Gadis nakal, menggemaskan, centil itulah adikku yang kusayang.
“Siap Ma.” Segera kututup ponselku. Dan ku segera beranjak.
Pagi ini memang cerah, namun benar-benar tak secerah hatiku yang sesak oleh serentetan peristiwa yang terus menghantuiku. Terus mengikutiku, mungkin akan mengikuti hingga bandara saja. Berharap tidak sampai ke Indonesia negeriku tercinta.
Segala bayangan yang terus mengikutiku, bahkan hingga ku berada di bandara Haneda Airport ini. Tanganku pelan menarik troller yang membawa tas koporku. Dan langkahku yang kulambatkan, karena memang jadwal keberangkatan masih sekitar 2 jam kemudian, sehingga aku bisa lebih bersantai di sini. Sempat kulirik jam yang melingkar di pergelangan tanganku. Memang masih cukup lama dan aku mencari makanan di sekitaran bandara. Kuperhatikan tepat di depan mataku di atas tas koporku terpampang kotak yang kemarin Akemi berikan padaku, meski hanya sampai di depan pintu apartemenku saja. Dan ia berikan dengan diam-diam. Mataku tetap tertuju kepada kotak itu. Memang sengaja tidak kumasukkan ke dalam tas, hanya kubiarkan saja ada di paling atas tumpukan koperku. Sebenarnya waktu itu sempat terpikirkan aku akan diantar Akemi hingga bandara, namun semua kandas. Dan semua pemikiranku tentang itu lenyap sudah. Kandas kini, ya impian tinggallah impian. Ku kini termangu, serasa hambar. Seharusnya ku tak perlu banyak berandai-andai jika toh pada akhirnya sama sekali bukan menjadi kenyataan. Malahan kini aku harus merasakan, bahwa aku harus seorang diri menuju Bandara dan benar-benar seorang diri. Tanpa Akemi yang kuharapkan ada di sampingku sekarang. Yah, meski begitu aku merindukannya. Saat kami berjalan menyusuri indahnya pepohonan Sakura yang benar-benar impianku yang menjadi nyata, meski ku harus menantinya dari kecil hingga sebesar ini dan cita-cita itu benar kudapatkan, dan aku bahagia tiada tara. Pohon Sakura, indahnya Negeri Jepang, bahkan kudapatkan Kimono nan indah. Semua kudapatkan. Tetapi hatiku yang amat sakit pun juga ku dapatkan. Seseorang yang sangat mengisi setiap hariku selama di Jepang, dia yang memberikanku kesenangan dengan menikmati pelosok Negeri Jepang, ternyata ku harus menerima kenyataan pahit, dia sudah dijodohkan. Ahh, mimpi macam apa ini? Mimpi yang ku terbangun dan air mata benar-benar mengalir. Adakah mimpi seperti itu? Seperti aku merasakan bahwa mimpi itu seperti nyata ketika kuterbangun. Memang nyata.
Kulirik ponselku yang terasa bergetar, nama Akemi terpampang di situ. Ku mencoba tuk mengabaikan saja. Namun ponselku terus bergetar. Karena sengaja memang aku tidak membunyikannya. Mengganggu dan memang nantipun di dalam pesawat akan aku matikan. Karena memang aku tak pernah menyalakan ponsel dalam pesawat. Kurang lebih 13 jam memakan waktu menuju ke Indonesia. Cukup lama, makanya aku hanya habiskan waktuku untuk mendengarkan musik di dalam pesawat. Sambil kubanyakkan mengemil atau makan. Sama seperti perjalanan yang aku lakukan sewaktu aku menuju ke Jepang dari Indonesia.
Ponselku terus bergetar dan nama Akemi masih terpampang di situ. Pikiranku semakin tidak menentu, antara harus kujawab atau tidak sama sekali. Atau bahkan aku akan matikan saja ponsel ini agar Akemi tidak bisa menghubungiku lagi. Namun kenapa Akemi masih saja menghubungiku? Apakah mungkin ada kata yang hendak ia utarakan? Aku rasa aku tidak akan sanggup lagi jika aku harus menjawab telepon darinya. Aku rasa sudah tidak perlu lagi kata yang harus terucap. Dan aku rasa sudah cukup semuanya. Dan semakin jelas aku tidak harus mengingatnya lagi. Apalagi menjawab teleponnya
Kulirik kembali kotak berwarna krem yang nampak gaun kimono merah jambu itu seakan mengajakku berdialog. Entah apa katanya, sepertinya ia berkata antara aku harus menjawab telepon Akemi atau aku harus memakai kimono itu? Ya Tuhan, kimono itu teramat sangat cantik. Dan itu adalah impianku yang sejak kecil teramat sangat kuimpikan. Kuimpikan kubisa memakainya, bahkan sampai aku harus mengorbankan kain mama untuk kubuat mengarang menjadi sebuah gaun kimono sewaktu kecil dahulu. Dan sekarang aku sudah mendapatkannya, namun aku masih juga sedih menerimanya. Meski sangatlah amat aku dambakan. Tetapi aku terasa membisu dengan berbagai bayangan-bayangan yang sudah aku lewati bersama dengan Akemi selama beberapa bulan ini. Teramat menyakitkan kesudahannya, dan semuanya harus aku terima dengan lapang.
Tiba-tiba telepon kembali bergetar, dan kucoba acuhkan saja. Tapi setelah pada akhirnya aku lirik dan mama! mama menelpon. Segera aku jawab telepon mama tanpa berpikir dua kali lagi.
“Sandri,” suara mama terdengar terpatah. Seperti mau meneruskan namun tidak jadi. Namun bagiku tak begitu kupermasalahkan.
“Iya?,” jawabku langsung saja.
“Sandri, kamu masih di sana kah? Pesawat jam berapa berangkat?,” nada mama terdengar sedikit khawatir. Aku hanya biasa saja. Dan kemudian menjawab pertanyaan mama dengan jawaban yang sudah tertera pada lembar ticket yang sedang aku genggam. Wajar saja mama terdengar khawatir, karena aku masih juga belum naik pesawat, tetapi memang begitu, pesawatnya belum jadwalnya untuk berangkat. Seakan aku memahami saat itu terdengar sekilas napas mama seolah lega. Aku pun amat merindukan mama dan papa juga Sisil. Rasanya tidak sabar untuk segera bertemu mereka dan menghujani mama dengan pelukanku yang kekanakan ini. Aku rindu mereka, apalagi harus bebarengan memikirkan apa yang kualami di Negeri ini. Bagaimana pun aku amat berterima kasih dengan perusahaan yang telah memberikanku kesempatan untuk bisa menginjakkan kakiku pada akhirnya di Negeri Sakura ini. Tanpa mereka aku tidak akan bisa begini sampai dapat mewujudkan apa yang pernah aku cita-citakan sejak masih kanak-kanak dahulu. Dan memang sudah terwujud nyata, namun kenyataan yang berkata lain. Aku juga harus menerima kepahitan di sini. Aku harus mencintai seseorang yang kutemui di Negeri Sakura ini, aku mengaguminya dan aku merasa inilah suatu tambahan dari impian yang kuimpikan selama ini, yaitu bertemu dengan seseorang yang asli berasal dari Jepang, dan ternyata kandas adanya. Aku harus kuat dan menerima semua ini dengan lapang. Karena tidak semua akan kita terima dengan manis. Aku pun akhirnya menerima hal yang pahit ini.
Kembali kupandangi ponsel, diam tak ada nama Akemi tertera di situ. Hanya melihat padahal aku tidak akan berharap bahwa Akemi menghubungi kembali, hanya saja sejenak membayangi yang tadi pada saat Akemi menghubungiku. Mungkin ia menelpon adakah sesuatu yang akan ia bicarakan? Ah kemungkinan ia pasti akan meminta maaf. Bagiku tidak perlu, aku sudah berusaha untuk ikhlas dan memaafkannya dan juga mencoba melupakan dan membuang jauh-jauh semua yang terjadi dan sekembalinya ke Indonesia ku berharap semua akan menjadi lain. Dan ku juga akan simpan rapi setiap apa yang pernah terjadi di Negeri ini. Yang pasti bagiku ku sudah mengakhiri semuanya. Yang kini kuanggap sebuah drama semata. Iya Drama. Drama yang endingnya sangat menyedihkan. Drama yang tidak berakhir dengan sesuatu yang indah. Sesuatu kebahagiaan. Ini lah drama yang berakhir akan kesedihan.
Ku matikan ponselku segera, pesawatku sudah tiba dan akan membawaku pulang jauh-jauh dari sini. Seperti seolah melarikan diri dari tempat yang jauh dan kutakkan pernah berpikir untuk bisa kembali lagi ke sini. Entahlah bagaimana nantinya. Yang pasti itulah yang ada di pikiranku saat ini.
Ku tinggalkan sebuah jejak terakhir di Bandara Haneda Airport ini. Gerung suara pesawat yang siap membawaku ke Indonesia sudah kokoh untuk terbang dengan gagahnya. Membuat semakin terlihat kecil dan jauh sekali terlihat Negeri itu. Iya. Negeri Sakura impianku sedari kanak-kanak yang terwujud nyata, kini ku harus meninggalkannya. Semua terwujud. Di sela senyum hambarku perlahan air mataku menitik diam-diam. Agar tak ada yang tahu, bahkan orang yang duduk di sebelahku. Ku hanya menarik sedikit nafas, tanpa sedikitpun menghapus air mataku. Karena kuyakin saat ini hanya Tuhan yang tahu kusedang menangis.

About Ari Widi

Check Also

Menulis Itu Tidak Langsung Instant

Banyak yang bertanya jadi penulis itu enaknya di mana sih? Jadi penulis itu kayak gimana …